Norma dan Keadilan


Pernahkah Anda mendengar kata zoon politicon apa artinya? Aristoteles seorang ahli fi lsafat dari Yunani mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon yang artinya manusia adalah mahluk sosial. Mahluk yang selalu hidup berkelompok dalam masyarakat. 

Menurut kodratnya manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Mahluk individu karena manusia diciptakan dengan karakteristik masing-masing, memiliki ciri khas yang berbeda satu dengan lainnya. Sebagai individu manusia memiliki sifat, bakat, minat, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda-beda. 

Tetapi sebagai mahluk sosial manusia sama-sama membutuhkan orang lain dalam hidupnya, karena itu manusia tergabung dalam kelompok masyarakat. Kehidupan kelompok masyarakat yang di dalamnya terdapat bermacam-macam orang dengan sifat, karakter, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda-beda, dapat menimbulkan adanya benturan kepentingan, perselisihan, perpecahan, bahkan dapat pula mengarah pada terjadinya kekacauan. 

Norma dalam Kehidupan Bermasyarakat

Oleh karena itu diperlukan adanya suatu kaidah, norma atau aturan yang disepakati bersama agar terwujud kehidupan yang tertib dan teratur. Apakah yang dimaksud dengan norma? Norma adalah suatu kaidah atau aturan tentang tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup di masyarakat. Norma merupakan tatanan kehidupan bersama dalam masyarakat.

Ada berbagai macam norma dalam masyarakat yang wajib kita patuhi agar tercipta kehidupan bersama yang tertib, teratur, aman, dan tenteram. Macam-macam norma berlaku dalam masyarakat yaitu norma-norma kesusilaan, kesopanan, agama, dan hukum. Bermacam-macam norma dalam masyarakat tersebut tidak bertentangan satu sama lain, tetapi saling melengkapi dan saling menguatkan dalam mewujudkan keadilan.

a. Norma Agama 

Perhatikan gambar berikut ini. Aktivitas apa yang terlihat? Orang-orang yang sedang beribadah menurut tata cara dan ajaran agamanya masing-masing. Mengapa kita beribadah? Apa akibatnya jika seseorang tidak menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya? Dosa! Itulah norma agama, aturan dalam agama. Norma agama merupakan sekumpulan kaidah atau peraturan hidup yang sumbernya dari wahyu ilahi. Norma agama ialah aturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintahperintah, larangan-larangan dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. 

Norma Agama merupakan tuntunan hidup kearah jalan yang benar. Setiap manusia harus melaksanakan perintah Tuhan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Contoh pelaksanaan norma agama yaitu perintah untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya. Melanggar norma agama sanksinya adalah dosa. Norma agama tidak hanya mengatur peribadatan yaitu kehidupan keagamaan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga memuat peraturan-peraturan hidup yang bersifat kemasyarakatan. 

Peraturan yang mengatur hubungan antar manusia dan memberi perlindungan terhadap kepentingan diri, maupun harta bendanya. Berikut ini adalah contoh norma agama. 
  1. Melaksanakan ketentuan agama, seperti: membantu sesama manusia, menghormati orang lain, tidak semena-mena terhadap orang yang lemah. 
  2. Menjauhi larangan agama, seperti: melakukan perjudian, minuman-minuman keras, mencuri, berbuat fi tnah, membunuh, berbuat zina, berbuat riba; 
  3. Melaksanakan shalat/sembahyang, ibadah tepat pada waktunya. Norma agama bagi pemeluk Agama Islam bersumber pada Al-Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Umat Kristen dan Katolik berpegang pada Alkitab. Umat Hindu berpegang pada Kitab Veda, umat Budha berpegang pada Kitab Tripitaka. Kitan suci Agama Khonghucu adalah Wu Jing (Kitab Suci yang Lima), Si Shu (Kitab yang Empat), dan Xiao Jing (Kitab Bakti). Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang sempurna, manusia dilengkapi dengan akal dan pikiran. 
Manusia dapat memanfaatkan alam, tetapi sekaligus bertanggungjawab untuk memelihara dan melestarikannya. Manusia juga dituntut untuk menciptakan kebaikan dan kebahagiaan dengan sesama manusia. Oleh karena itu, dengan pelaksanaan norma-norma agama, akan tercipta kepatuhan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa dan keserasian antara manusia dengan sesama maupun lingkungannya.

b. Norma Kesusilaan Norma 

kesusilaan adalah peraturan hidup yang berkenaan dengan bisikan kalbu dan suara hati nurani manusia. Ketika seseorang hendak melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma, sebenarnya ada bisikan kalbu, ada suara hati nurani, suara kebenaran yang memperingatkannya. Jika ia mendengar dan mengikuti bisikan kalbunya atau suara hati nuraninya, maka ia akan terhindar dari perbuatan yang tidak benar, tindakan yang melanggar norma. 

Sebaliknya jika ia tetap melakukan tindakan yang tidak jujur, tindakan yang melanggar norma, berarti ia telah mengabaikan suara hatinya, suara kebenaran yang memperingatkannya. Suara hati nurani adalah suara kebenaran yang senantiasa memperingatkan kita untuk bertindak benar, bertindak jujur sesuai norma-norma yang berlaku. 

Karena berasal dari hati nurani, atau bisikan kalbu, maka seseorang yang melakukan pelanggaran norma kesusilaan, yaitu tidak mendengarkan suara hati nuraninya, akan timbul rasa penyesalan. Sanksi bagi seseorang yang melanggar norma kesusilaan (misalnya tidak jujur), adalah penyesalan karena perbuatannya tersebut. 

Contoh norma kesusilaan antara lain adalah berikut ini. 
  1. Hendaklah engkau bertutur kata dan bertindak jujur. 
  2.  Berbuat baiklah terhadap sesama manusia 
  3. Janganlah engkau menyakiti perasaan sesamamu/ 
  4. Janganlah membunuh sesamamu.

c. Norma Kesopanan 

Norma kesopanan adalah norma yang bersumber dari masyarakat. Norma kesopanan, yaitu aturan-aturan yang disepakati bersama, tentang hal-hal yang pantas dan yang tidak pantas, sopan dan yang tidak sopan dalam tata pergaulan sehari-hari suatu kelompok masyarakat. 

Norma kesopanan terkait erat dengan tata kehidupan, budaya, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan suatu kelompok masyarakat sehingga bersifat lokal (berlaku setempat), tidak berlaku umum untuk seluruh dunia. Oleh karena itu ada kemungkinan suatu tindakan tertentu dipandang pantas dalam suatu kelompok masyarakat, namun dianggap kurang pantas atau kurang sopan dalam lingkungan masyarakat yang lain. 

Hal ini sesuai dengan peribahasa “Lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya”. Norma kesopanan yang memuat aturan tentang pergaulan manusia dalam masyarakat tersebut, terlihat dalam tata cara berpakaian, tata cara berbicara, tata cara berperilaku, tata cara bertamu, tata cara menyapa orang lain, tata cara makan, dan sebagainya. Sanksi bagi seseorang yang melanggar norma kesopanan adalah tidak disukai, dicela atau dicemooh oleh masyarakat, bahkan bisa juga dikucilkan. 

Contoh norma kesopanan antara lain:
  1. Mengucapkan salam ketika bertamu. 
  2. Mencium tangan orang tua saat berpamitan. 
  3. Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua 
  4. Berpakaian sopan. 
  5. Bertutur kata sopan. 
  6. Tidak berbicara sambil mengunyah makanan. 
  7. Tidak meludah di sembarang tempat. 
  8. Tidak menyela pembicaraan orang. 
Samakah norma kesopanan dengan kebiasaan dan hukum adat? Kebiasaan menunjukkan adanya suatu tindakan atau perbuatan yang berulang-ulang dalam peristiwa yang sama dan dalam waktu yang lama. Tindakan atau kebiasaan tersebut kemudian diterima dan diakui oleh masyarakat. Contohnya kebiasaan mengunjungi orang yang lebih tua, mudik lebaran, menjenguk tetangga yang sedang sakit, dsb. 

Sedangkan adat istiadat adalah aturan dalam masyarakat yang berhubungan dengan tradisi atau kebiasaan yang dianggap baik dan dilakukan secara turun temurun. Adat istiadat merupakan hukum yang tumbuh, berkembang, dan hidup dalam masyarakat. Adat istiadat yang mengandung sanksi disebut hukum adat. 

Contohnya hukum adat Papua bagi seseorang yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas, ia harus memberi ganti kerugian dengan uang dan ternak babi. Adat istiadat yang tidak mengandung sanksi biasa disebut tradisi. 

Contohnya adat istiadat atau tradisi “mitoni” dalam masyarakat Jawa Tengah yaitu acara tujuh bulanan bagi seorang ibu yang sedang hamil tujuh bulan. Jika seseorang tidak melakukan acara “mitoni” ketika hamil tujuh bulan, maka tidak ada sanksi hukuman yang dikenakan kepadanya. 

Pulang kampung saat Idul Fitri adalah kebiasaan atau tradisi, jika seseorang tidak pulang kampung pada saat Idul Fitri, maka sanksi dari masyarakat tidak seperti jika seseorang melanggar aturan adat perkawinan. Dengan demikian jelaslah bahwa perbedaan antara kebiasaan dengan adat istiadat, terletak pada sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan. Sanksi terhadap pelanggaran adat istiadat atau hukum adat, lebih kuat dibanding sanksi pelanggaran terhadap kebiasaan. Tiga macam norma tersebut di atas yaitu norma agama, kesusilaan, dan kesopanan bertujuan membangun ketertiban kehidupan manusia. 

Namun ketiga norma tersebut belum cukup kuat memberikan jaminan untuk mewujudkan ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Ada hal-hal yang tidak termasuk diatur dalam ketiga norma tersebut. Misalnya tentang lalu lintas di jalan raya. Seseorang yang mengendarai motor di jalan raya harus memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), dan mengenakan helm. Dalam hal ketenagakerjaan, seorang pekerja dengan masa kerja tertentu berhak mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya), dsb. Banyak hal yang tidak diatur dalam ketiga norma tersebut, tetapi sebenarnya perlu diatur agar terwujud ketertiban, keteraturan, dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Pelanggaran norma agama (dosa) diancam hukuman dari Tuhan, yang berlaku kelak di akhirat. Pelanggaran norma kesusilaan mengaikabtkan perasaan cemas, dan penyesalan, bagi pelaku yang insyaf. Pelanggaran norma kesopanan mengakibatkan celaan, cemoohan, atau pengucilan dari lingkungan masyarakat. Hukuman-hukuman tersebut tidak akan diperhatikan atau diabaikan oleh orang-orang yang memang tidak mempedulikan agama, kesusilaan, dan kesopanan. Orang-orang yang demikian itu merasa tidak terikat oleh norma-norma agama, kesusilaan, maupun kesopanan. Sehingga mereka merasa bebas berbuat sesuka hatinya. Hal ini tentu membahayakan masyarakat. Oleh karena itu disamping ketiga macam norma tersebut yaitu norma agama, kesusilaan dan kesopanan, diperlukan juga norma hukum.

d. Norma Hukum 

Norma hukum adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh negara, melalui badan-badan resmi negara yaitu lembaga-lembaga negara. Isinya mengikat setiap orang warga negara untuk menaati. Jika dilanggar maka akan dikenai sanksi oleh negara. Norma hukum berisi larangan-larangan, dan perintah-perintah yang harus dipatuhi. 

 Contoh norma hukum: 
  1. Bersifat perintah: “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 ayat (1) dipidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah)” 
  2. Bersifat larangan: “Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)” 
Norma hukum dibuat untuk menciptakan ketertiban, keteraturan, dan keadilan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apabila seseorang melakukan pelanggaran norma hukum, ia akan mendapatkan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sesuai Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Indonesia adalah negara hukum. Dengan demikian norma-norma hukum harus dijunjung tinggi dan ditaati agar tercipta kehidupan bersama yang tertib, teratur, aman, dan damai. 

Norma hukum memiliki sifat memaksa serta sanksi yang jelas dan tegas. Untuk melaksanakan norma-norma hukum, negara memiliki aparat penegak hukum seperti polisi, jaksa, dan hakim yang dapat memaksa seseorang agar menaati hukum dan memberi sanksi bagi pelanggar hukum.

Soal Uji Pemahaman

Pilihlah jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang (x) pada huruf A, B, C, atau D.
1. Aristoteles seorang ahli filsafat dari Yunani menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia adalah “zoon politicon”  artinya manusia . . . .
a. Mahluk individu dengan berbagai macam kepentingannya
b. Adalah mahluk yang selalu hidup berkelompok dalam masyarakat
c. Harus dapat hidup bersama-sama dengan kelompoknya sendiri
d. Hanya dapat hidup bila selalu bersama-sama dengan manusia lainnya

2. Peribahasa “Di mana bu mi dipijak, disitu langit dijunjung” yang berasal dari Sumatra Barat mengandung makna bahwa dimanapun kita berada kita harus . . . .
a. Mematuhi norma-norma yang berlaku
b. Mengetahui semua aturan di daerah tersebut
c. Memperkenalkan adat istiadat daerahnya sendiri
d. Melaksanakan norma tertentu yang dianggap sesuai

3. Kaidah hidup, aturan, perintah, dan/atau larangan yang berlaku dalam masyarakat disebut . . . .
a. Adat istiadat
b. Hukum negara
c. Norma-norma
d. Kebiasaan

4. Tujuan adanya norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat adalah ....
a. Mewujudkan ketertiban dan keteraturan
b. Menghukum orang yang melanggar norma
c. Memaksa seseorang untuk bersikap baik
d. Menghindari adanya perbedaan kepentingan
5. Seseorang menyesal dan merasa bersalah karena telah berbohong kepada orang lain, merupakan perwujudan norma . . . .
a. Agama
b. Kesopanan
c. Kesusilaan
d. Hukum

6. Bercanda dengan memanggil teman, menggunakan sebutan tertentu yang dapat menyinggung perasaannya, merupakan tindakan yang kurang sesuai dengan norma . . . .
a. Agama
b. Kesopanan
c. Kesusilaan
d. Hukum

7. Seseorang melakukan tindakan kekerasan fisik maupun psikis terhadap orang lain dapat diancam hukuman penjara, adalah norma. . . .
a. Agama
b. Kesusilaan
c. Kesopanan
d. Hukum

8. Perbedaan norma hukum dengan norma-norma yang lain terletak pada sanksinya, yaitu . . . .
a. Hukuman yang berat
b. Berupa hukuman penjara
c. Bersifat jelas dan tegas
d. Pengucilan dan pidana

9. Seseorang dapat diancam hukuman penjara bila terbukti menyebarkan berita bohong melalui media sosial, merupakan pelanggaran norma . . . .
a. Agama
b. Hukum
c. Kesusilaan
d. Kesopanan

10. Berikut ini merupakan alat perlengkapan negara yang bertugas menegakkan hukum dengan menanggulangi aksi kejahatan dan gangguan keamanan . . .
a. Jaksa
b. Hakim
c. Pengacara
d. Kepolisian

B. Uraian: Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan benar.
1. Apakah arti peribahasa “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” Jelaskan pendapat Anda.
2. Dimanakah letak perbedaan antara berbagai macam norma yang berlaku dalam masyarakat?
3. Berikan empat (4) contoh norma kesopanan yang terdapat di lingkungan masyarakat daerah Anda.
4. Mengapa kita harus mematuhi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat?
5. Berikan dua contoh tradisi atau kebiasaan yang sampai saat ini selalu dilakukan oleh masyarakat di daerah Anda. [ Tampilkan Kunci Jawaban ]
Baca Juga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar